29/02/2024

Source: https://www.pajak.com/pajak/tarif-sst-naik-pengusaha-hotel-optimis-pariwisata-tetap-ramai/

Pajak.comJakarta – Mulai 1 Maret 2024, wisatawan yang berkunjung ke Malaysia harus merogoh kocek lebih dalam untuk menginap di hotel. Hal ini sebagai dampak atas kenaikan Pajak Penjualan dan Jasa (Sales and Service Tax/SST) dari 6 persen menjadi 8 persen, yang diumumkan oleh Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Anwar Ibrahim dalam Pidato Anggaran Tahun 2024. Kenaikan ini diproyeksi akan berdampak pada biaya operasional hotel, seperti kebersihan, utilitas, transportasi, dan persediaan. Namun, pengusaha hotel optimis meningkatnya tarif SST tidak berimbas terhadap sektor pariwisata.

Mereka percaya kenaikan tarif SST tidak akan mengurangi tingkat kunjungan wisatawan, salah satunya karena tarif hotel di Malaysia masih terjangkau dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Selain itu, Pemerintah Malaysia juga memberikan fasilitas bebas visa bagi wisatawan dari Tiongkok, India, dan negara ASEAN lainnya.

Presiden Asosiasi Hotel Malaysia (MAH) Datin Christina Toh mengatakan, kenaikan tarif kamar juga dipengaruhi oleh faktor-faktor musim puncak, seperti liburan sekolah atau perayaan. Terlebih, Pemerintah Malaysia telah memberikan dukungan berupa pengecualian visa untuk kewarganegaraan tertentu.

“Kenaikan [pajak] tidak berpengaruh. Kami ingin menarik lebih banyak wisatawan asing ke negara kami karena harga kami masih masuk akal,” katanya kepada Sinar Daily, dikutip Rabu (28/02).

Ketua MAH Cabang Johor Ivan Teo menambahkan, tarif kamar hotel di Johor sudah naik antara 20 persen hingga 30 persen sejak pertengahan tahun lalu, akibat kenaikan tarif listrik. Namun, Teo mengatakan, hotel-hotel di Johor masih ramai pada akhir pekan, liburan panjang, dan liburan sekolah.

Ia juga menyebut bahwa kenaikan tarif kamar tidak berpengaruh bagi tamu dari Singapura, Cina, Thailand, dan Vietnam, yang masih menjadi mayoritas. Hotel-hotel di Johor, terutama di Johor Baru dan Iskandar Malaysia, juga mengalami peningkatan pengunjung dari Korea Selatan, yang datang untuk bermain golf atau menghindari musim dingin.

Selain itu, ada juga tamu dari Korea Selatan dan Tiongkok daratan yang mengambil kursus bahasa Inggris atau perawatan medis di rumah sakit swasta.

“Kami tidak melihat ada masalah dengan kenaikan tarif kamar, kecuali untuk tamu Indonesia yang terkena kurs rupiah-ringgit,” katanya.

Direktur Utama Lotus Desaru Resort R. Indra Ghandi menuturkan bahwa tarif kamar di hotelnya tidak dinaikkan, tetapi sudah termasuk SST. Ia menyebut bahwa 50 persen tamu hotelnya adalah orang Singapura yang memiliki daya beli yang kuat.

Namun, Ghandi mengusulkan agar Pemerintah Malaysia menawarkan akses masuk tanpa visa kepada wisatawan dari negara selain Tiongkok dan India. Ia juga berharap bahwa Menteri Besar Johor Onn Hafiz Ghazi, yang bertanggung jawab atas pariwisata, akan mengadakan acara untuk menarik lebih banyak pengunjung dari Korea Selatan, Jepang, Taiwan, dan India.

“Ada 300 juta orang di India yang berpenghasilan menengah. Ini adalah pasar yang besar jika kita bisa menarik mereka ke Johor,” katanya.

Di sisi lain, ada juga yang khawatir bahwa kenaikan harga hotel akan mengurangi jumlah wisatawan yang datang ke Malaysia. Direktur agen perjalanan AMK Holidays Sdn Bhd Amirullah Kamarudin mengungkapkan, kenaikan harga hotel akan mengecilkan minat wisatawan untuk memilih Malaysia sebagai tujuan liburan.

“Pemerintah harus meninjau kembali situasi ini. Sambil mendesak masyarakat untuk berlibur untuk mendukung pemulihan ekonomi, lonjakan harga hotel menimbulkan tantangan bagi sektor pariwisata,” katanya.