Rabu, 23 Desember 2020 / 11:00 WIB

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20201223094059-92-585513/ekonom-ungkap-beban-berat-sandiaga-uno-jadi-menparekraf

Jakarta, CNN Indonesia — Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Nailul Huda mengatakan Sandiaga Uno punya banyak tugas berat sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf).

Pasalnya, pandemi covid-19 yang telah berlangsung lebih dari sembilan bulan membuat sektor pariwisata dan ekonomi kreatif berada di ambang kebangkrutan.

Menurut Huda, PR utama bagi Sandi di bidang pariwisata saat ini adalah meningkatkan kembali permintaan pariwisata dan menjaga supply industri pendukungnya.

“Sejumlah industri pendukung pariwisata seperti hotel, akomodasi, hingga UMKM kerajinan oleh-oleh harus diselamatkan dengan memberikan bantuan-bantuan serta mengikutsertakan mereka dalam penanganan pandemi,” ucapnya kepada CNNIndonesia.com Rabu (23/12).

Di sisi demand, permintaan masyarakat untuk berwisata yang masih rendah saat ini disebabkan oleh dua hal. Pertama, menurunnya pendapatan masyarakat yang mengakibatkan mereka menunda pengeluaran untuk berwisata.

Kedua, masih tingginya khawatir akan tertular covid-19. Dua hal ini menjadi tantangan besar bagi Sandiaga sebab hingga saat ini penyelesaian keduanya masih sangat tergantung dari penanganan pandemi dan kehadiran vaksin.

“Saya khawatir dengan penanganan seperti saat ini, penanganan pandemi masih lama, demand pariwisata belum akan membaik secara signifikan,” terangnya.

Sementara itu Ekonom Center for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri menuturkan yang diperlukan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif saat ini adalah strategi yang lebih komprehensif untuk pemulihan dari pandemi covid-19.

Karena itu menurutnya, yang harus dilakukan Sandiaga ke depannya bukan hanya pada aspek promosi. Melainkan juga keterlibatan masyarakat di sekitar lokasi pariwisata hingga pengembangan ekosistem pariwisata.

“Pariwisata itu sebelumnya lebih banyak dijabarkan sebagai promosi atau marketing. Saya kira butuh kebijakan lebih komprehensif dan bukan sekedar promosi,” tandasnya.