Rabu, 23 Juni 2021 / 07:45 WIB

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20210622214035-92-657997/mcdonalds-dan-kfc-pangkas-paket-hemat

Jakarta, CNN Indonesia — Restoran cepat saji Amerika Serikat McDonald’s dan KFC mengurangi produk harga US$5 per porsi ke bawah. Hal ini dilakukan demi mendorong produk makanan kombinasi dengan harga yang lebih mahal, yakni US$10 sampai US$30 per porsi.

Mengutip Reuters, Selasa (22/6), kebijakan ini merupakan strategi perusahaan guna meningkatkan penjualan dan keuntungan. Hal ini juga upaya perusahaan untuk mengimbangi kenaikan harga makanan saat ekonomi AS dibuka kembali usai lockdown beberapa waktu lalu.

Makanan dengan harga US$5 per porsi atau di bawah itu biasanya berisi sandwich, soda, dan kentang goreng. Paket itu telah lama menjadi makanan pokok yang ditawarkan McDonald’s dan KFC.

Restoran cepat saji sengaja melakukan hal tersebut guna memikat pelanggan. Namun, penawaran dengan harga US$5 ke bawah tak menguntungkan perusahaan dalam 18 bulan terakhir.

Selama pandemi covid-19, restoran cepat saji memperoleh pangsa pasar dari restoran lain yang terpaksa tutup. Namun, kini ekonomi AS kembali dibuka.

McDonald’s dan KFC menjual sandwich dan makanan baru yang lebih mahal kepada pelanggan. Strategi ini berhasil.

Penjualan di restoran cepat saji naik 11,5 persen pada Mei 2021 dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019. Lalu, margin keuntungan juga naik di beberapa produk.

Sementara, Wendy’s mengatakan pihaknya merupakan pelopor menu murah pada 1989. Mereka mendedikasikan sebagian papan menunya untuk harga makanan sekitar 99 sen.

Namun, Wendy’s kini menawarkan makanan dengan harga lebih tinggi. Lalu, KFC berhenti memasarkan makanan Fill Ups seharga US$5 per porsi dan kini mempromosikan menu makan keluarga senilai US$30 per porsi.

Pelanggan Restoran Cepat Saji

Pelanggan restoran cepat saji terdiri dari pekerja yang digaji per jam, pekerja berpenghasilan rendah, dan masyarakat menengah ke atas.

Tercatat, 39 persen pengunjung restoran cepat saji adalah orang dengan pendapatan rumah tangganya sebesar US$100 ribu atau lebih. Lalu, 12 persen kunjungan berasal dari masyarakat berpenghasilan kurang dari US$25 ribu.

Sementara, 49 persen pengunjung adalah mereka yang berpendapatan antara US$25 ribu dan US$100 ribu per bulan. Restoran cepat saji yang menghapus terlalu banyak penawaran produk harga murah berisiko kehilangan pelanggan inti mereka.

Namun, belum semua restoran cepat saji menghapus produk murah. McDonald’s salah contohnya, perusahaan masih menyajikan produk makanan dengan harga US$1, US$2, dan US$3 per porsi.

Secara rata-rata, restoran cepat saji meluncurkan lebih sedikit makanan kombinasi baru dalam 18 bulan terakhir. Hal ini berdasarkan riset dari salah satu perusahaan di Chicago, Datassential.