Senin, 12 Oktober 2020 / 19:17 WIB

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20201012183709-532-557568/sri-mulyani-ekonomi-mulai-pulih

Jakarta, CNN Indonesia — Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati optimistis perekonomian Indonesia masuk ke dalam fase pemulihan pada kuartal III. Ia memperkirakan meski masih berada pada zona negatif, ekonomi pada periode itu lebih baik dibandingkan dengan kuartal II yang minus hingga 5,2 persen.

“Sudah mulai pulih dan akan semakin kuat di kuartal IV,” ujar Sri Mulyani dalam Pembukaan Ekspo Profesi Keuangan, Senin (12/10).

Ia mengatakan keyakinan didasarkan pada efek penyaluran bantuan sosial yang disalurkan pemerintah dalam menahan tekanan ekonomi akibat corona. Ia bilang efek bantuan itu secara besar akan terasa pada kuartal III 2020.

Ia berharap pemulihan ekonomi itu akan berdampak positif ke penerimaan negara pada tahun depan sehingga defisit anggaran dapat ditekan.

“Dalam suasana pandemi APBN, kami revisi sudah 3 kali. Pertama awal defisit 1,76 persen, kemudian Perpes 54/2020 defisit sekitar 5 persen, dan ke Perpres 72/2020 dengan defisit 6,3 persen,” tuturnya.

Mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu menambahkan pemerintah terus berupaya mengeluarkan sejumlah jurus guna mengatasi tekanan ekonomi yang diakibatkan oleh virus corona.

Ia mengatakan masalah ekonomi yang diakibatkan oleh virus corona cukup pelik. Masalah itu bahkan tak pernah terprediksi sebelumnya.

“Kita pernah pandemi tapi itu waktu Indonesia dijajah Belanda, yaitu 1918 waktu Indonesia belum merdeka,” tuturnya.

Sebelumnya, ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi RI pada kuartal III-2020 akan berada di kisaran minus 2,8 persen-1 persen. Sedangkan keseluruhan tahun ini pertumbuhan ekonomi ia perkirakan berada di level 0,6 persen hingga 1,7 persen.

Proyeksi ini sejalan dengan ramalan sejumlah lembaga keuangan internasional seperti Dana Moneter Internasional (IMF). Lembaga itu memperkirakan ekonomi Indonesia negatif 0,3 persen.

Kemudian, ada pula proyeksi Bank Dunia yang menyatakan perekonomian Indonesia akan kontraksi 2 persen-1,6 persen pada tahun ini.

Menurutnya, proyeksi tersebut masih lebih bagus ketimbang negara tetangga lain di Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura, Thailand dan Filipina mengalami kontraksi lebih dalam.