Kamis, 19 Agustus 2021 / 22:20 WIB

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20210819171218-78-682584/indeks-perilaku-keuangan-generasi-muda-cuma-3772-dari-100

Jakarta, CNN Indonesia — Indeks literasi dan perilaku keuangan generasi muda, yakni OCBC Financial Index, masih rendah, yakni 37,72 dari rentang 100 pada 2021. Angka ini dihimpun dari survei yang digelar oleh OCBC NISP bersama konsultan riset Nielsen IQ terhadap 1.027 responden.

Direktur Bank OCBC NISP Ka Jit menerangkan OCBC Financial Index berbeda dengan sejumlah indeks lainnya, seperti indeks OECD Financial Literacy Assessment maupun indeks literasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Perbedaannya, OCBC Financial Index tidak hanya mengukur literasi tetapi juga memberikan penilaian dari perilaku dan pola pikir (mindset) keuangan generasi muda.

“Berdasarkan hasil riset 2021, Fitness Financial Index Score masyarakat kalangan muda Indonesia skornya rata-rata 37,72 dan finding (temuan) menarik yang kami lihat adalah dari hasil survei hampir 86 persen terlihat kondisi finansialnya adalah kategori kurang sehat. Jadi perlu dilakukan check-up segera dan langkah-langkah perbaikan,” ujarnya dalam webinar, Kamis (19/8).

Survei ini dilakukan kepada 1.027 responden dengan usia 25 tahun-35 tahun. Sebanyak 538 responden berasal dari Jabodetabek, 325 dari Surabaya, dan orang dari 164 Medan.

Finance Vertical Leader Nielsen IQ Inggit Primadevi memaparkan sejumlah temuan penting dalam riset ini yang mempengaruhi indeks tersebut. Pertama, hanya 16 persen dari golongan muda tersebut yang memiliki dana darurat.

“Ada beberapa data yang cukup menarik terkait dengan perencana keuangan. Pertama, masih rendahnya yang menyisihkan dana darurat. Ternyata, yang punya dana darurat pun di sini masih 16 persen,” jelasnya.

Kedua, sebanyak 46 persen responden percaya diri bahwa perencanaan finansial mereka saat ini akan memberikan kesuksesan finansial di masa depan.

Tetapi faktanya, 84 persen responden tidak mencatat pengeluaran dan anggaran. Sementara itu, 3 persen responden tidak memiliki investasi.

“Penyangkalan ini yang menyebabkan miskalkulasi terhadap kondisi finansial yang sesungguhnya,” imbuh dia.

Selain itu, golongan muda memiliki mindset kurang tepat mengenai definisi kaya. Misalnya, sebanyak 43 persen responden menyatakan bahwa kaya itu mengacu pada kepemilikan rumah mewah, 29 persen mampu membeli bawang mewah, 21 persen memiliki mobil mewah, dan sebagainya.

“Memang ada mindset yang kurang sepenuhnya tepat mengenai kaya. Kalau di sosial media, rich people itu punya rumah mewah, mobil, tas branded, itu yang dianggap mewah. Tapi apakah banyak yang punya mindset kalau kaya itu punya saham sekian juta, misalnya atau investasi sekian, sepertinya jarang dibahas,” tuturnya.

Riset ini menggunakan campuran metode kualitatif dan kuantitatif. Para peneliti menggunakan empat indikator utama untuk mengukur indeks tersebut.

Meliputi financial basic (landasan finansial), financial safety (keamanan finansial), financial growth (pertumbuhan finansial), dan financial freedom (merdeka finansial).